Dulu anak ini kalau makan disuapi bersama dengan anak-anak tetangga lainnya. Kalau susah makan, ibu tetangga menyahut dari jauh: "Makan lah, dak makan mati kau!" Dulu anak ini masih tiga tahun sudah bisa mengunci pintu rumah ketika ditinggal sendiri karena ibu mau melongok warung sayur di ujung komplek, tapi tidak bisa membukanya lagi. Dulu anak ini bilang ingin jadi dokter gigi sejak berteriak nyalang: "TOLONGGG DOKTER TOLONGGG SUSTER TOLONGGG!" padahal mereka semua ada disitu, siap mencabut gigi pertamanya. Lalu ingin jadi arsitek, secara ala-ala merancang rumah impian berbentuk segi delapan. Lalu ingin jadi arkeolog biar kelihatan gagah. Lalu ingin jadi penulis. Pianis. Jurnalis. Desainer baju. Desainer interior. Insinyur pencipta mesin penyedot sekaligus pencacah tumpukan daun kering di pinggir jalan. Sekarang anak itu masih suka berangan-angan tentang masa depannya, padahal dia sudah ada di masa depan yang seakan tak terbayangkan olehnya waktu lebih ke...
Sekarang rabu sore, tepatnya menghitung jam menuju UAS semester 5. Ya ampun, aku merasa sangat tua karena adik kelasku sudah dua angkatan dan karena sudah pegang KTP. Aku menekuni memori tentang hari-hari beradaptasi dengan menghilangnya Andri beserta temaaan barunya, yang ternyata sangat (tidak) mudah. Suatu hari waktu itu aku terpapar kharisma seorang fotografer yang sangat idealis. Kami bertemu cukup sering, rapat cukup sering. Kelas kami ternyata bersebelahan. "Haha, Zasya.. Sudahlah berceritanya." Kata Shany, atau Sen supaya lebih singkat. Sepertinya dia sudah lelah dengan cerita sehari-hari tentang ini itu yang sepele. Hari anu aku rapat dengannya, hari anu dia memuji mading (buatan adik kelas)ku, hari anu (aku bercerita sambil mencak-mencak) makan siang dengan si Mawar di kafe dekat sekolah, hari anu, hari anu. "Kalau itu memberatkan, tinggalkan saja. Tidak usah cerita, tidak usah berbicara, nanti tambah sulit hidupmu." Orang punya paradigma yang be...
Comments