Sangat jarang aku menerima ajakan ini. Bukan sesuatu yang sangat mengerikan, tapi aku merasa sangat takut dan tertekan. Takut ini sepertinya memang cuma dibuat sendiri, toh aku tidak akan tahu apa yang terjadi di luar lingkup kecil pikiranku. Aku pikir orang-orang tidak ingat tentangku, cuma selewat saja sebagai salah seorang yang ada di antara siswa-siswi sekolah ini, tidak lebih. Kalau diingat-ingat, sepertinya aku berteman dengan siapa saja dan tidak pernah bertengkar, tetapi tidak pernah juga punya teman dekat. Memang menyenangkan bisa punya hubungan baik dengan semuanya, tapi rasanya semua hanya karena aku orang yang baik, bukan karena aku terikat secara emosional dengan teman-teman dulu. Seperti menyapa orang yang berpapasan di koridor, tidak ada yang lebih. Sangat jarang aku menerima ajakan ini. Aku memutuskan untuk melindas rasa takut jadi orang yang dilupakan, daripada aku memandang acara itu terjadi dari kejauhan sambil menduga-duga apakah aku benar-benar jadi ora...
It's a big day, I bet this day is going to be tiring. The sun is still littly peeking through a row of windows, creating some dramatic diagonal light pillars. After we had breakfast, I head to the place where I will be owned by the next couple of hours: a big tall bookcase, covering the whole wall in one side of the living room. Mom is in charge of the kitchen and the fridge, dad is out there with the plants, big sis is with a mountain of laundry, and lil bro is surrounded by pets waste. The pets? Well, I hope they don't mess up. A bookcase might sounds pretty "meh" compared to the other tasks, but this particular bookcase is no joke. Everything is mixed here: books (of course), photo albums, tons of notebooks, old CDs, old cassettes, electronic devices (broken and not), rarely used kitchenware, stationeries, board games, toys from when we are babies, until stacks of old blankets and curtains. Complete chaos. My specialty is to deal with them until the bookcase is at ...
Kami membuat janji untuk bertemu di pantai dekat rumah. Sudah bertahun lamanya, tidak terbayang perubahan seperti apa yang akan kutemui. Rencana pertemuan ini sangat aneh karena dia yang menginisiasinya setelah semua yang telah terjadi. Sewindu mungkin rentang waktu yang bagus untuk menyudahi semua luka dan rasa bersalah, tapi tidak untukku. Memangnya enak, sewindu merasa harus berpisah saja dan bertemu lagi sekaligus? 30 menit sebelum waktu yang dijanjikan, aku sudah berdiri saja di dekat batas ombak, membiarkan sedikit air laut membasuh kaki dan sandal. Matahari belum terlalu tinggi, kubiarkan menerpa kulit banyak-banyak. Ternyata yang datang lebih dulu bukan cuma aku, tapi juga si empunya rencana bertemu. "Cepet banget datengnya." "Kamu juga. Apa kabar?" "Nggak baik." "Kenapa?" Aku tidak tahu mau jawab apa. "Kenapa ketemunya harus di pantai?" "Biar bisa teriak kalau diperlukan." Aku ketawa saja. "Mau teriak apa?" ...
Comments