Berbelas hari sudah lewat dari periode paling kelam dalam sejarah hidup kampungku. Ketika pembangunan sedang gencar-gencarnya, sekelompok orang dari negara lain datang mencincang seluruh bangunan, ruko, sekolah-sekolah kami. Menyisakan tiang-tiang beton yang tulang bajanya mencuat tak berbentuk. Camp pengungsian kumal bertebaran di sekitar kampung yang hampir rata dengan tanah. Sulit air, sulit listrik (lebih tepatnya tidak ada), sulit bahagia. Beberapa ibu masih meratapi anak dan suaminya yang terbunuh atau diculik. Beberapa terlihat mulai menurun kesehatan akalnya, berjalan tak berarah dengan mata kosong. Aku memberanikan diri menyusuri kembali salah satu dari ratusan puing bangunan yang tersebar merata, bekas asrama sekolahku hari-hari lalu. Melihat tiang-tiangnya, aku masih bisa membayangkan letak lorong kamar, ruang kepala asrama tempatku disetrap, kamar lima murid perempuan paling berisik dan saling sayang, dapur dan kantin. Yang tidak kuketahui letaknya adalah kebahagiaanku. ...
Kita semua sudah mengenal olahraga, bukan? Ya, dari semenjak usia bayi hingga lansia, kita semua butuh berolahraga untuk menjaga kesehatan badan. Oya, selain olahraga, kita juga perlu makanan yang bergizi, istirahat yang cukup, dan selalu tersenyum agar kita sehat. Ada banyak sekali macam-macam olahraga. Kita bisa memilih sesuai dengan kesukaan kita masing-masing. Di olahraga, ada yang menggunakan bola dan tidak menggunakan bola. Contoh olahraga yang menggunakan bola adalah sepak bola, tenis, bola basket, baseball, kasti, bulu tangkis, bola pingpong, bola voli, dan futsal. Sedangkan olahraga yang tidak menggunakan bola misalnya renang, senam, atletik, yoga, ice skating, catur, dan tinju. Salah satu cabang olahraga, ada yang orangnya tidak banyak bergerak. Namun hanya duduk diam sambil berfikir dan menghadapi sebuah papan kecil. Olahraga itu adalah catur. Mungkin banyak orang mengatakan catur bukanlah olahraga, hanyalah sebuah permainan. Namun, sebenarnya catur itu olahraga! Catur ada...
Yes, I currently finished the whole SPN Salman ITB. The first offline batch of SPN after about 2-3 years of hiatus (and lots of online batches). Participating as a student in SPN (sekolah pra nikah, pre marital school) is a bold move, I must say. All I want is to learn and understand before I need to do it, so I don't have to learn and understand from scratch on the spot which I believe will be in the middle of chaos. Trust me, I haven't experienced much (read: no experience) but the whole process to become a steady self with a lifetime partner is chaotic (not only after that). Before I continue: No, I am not in the position to marry yet right now, but I realize that the chance to study before everything gets in the way is now. SPN put me in a comprehension state to see everything objectively, because marriage is not only consolidating with love. Love is too subjective to be the only vessel across the non-stop turbulent ocean. You need good gears, enough supplies, skills to ma...
Comments