Ini adalah ketiga kalinya saya merasa tenang ketika grup obrolan whatsapp rusuh membahas turunnya harga daun bawang. Tidak main-main, nyaris setengah harga normal. Banyak petani kemudian bingung bagaimana cara menjual habis daun bawang tanpa nombokin harga modal dan tetap bisa hidup cukup sekeluarga. Tengkulak, bagi mereka, adalah satu-satunya harapan. Belum lagi kalau si tengkulak adalah saudara dekat petani, untung tak untung tetap dijual karena hubungan keluarga. Saya segera beralih ke daftar kontak. Menelepon. "Halo, Pak?" "Mas Daniel! Saya ada panen daun bawang cukup banyak, bisa tampung?" "Berapa kuintal, Pak?" "Delapan." "Siap, laksanakan. Kami kesana sore ini." *** "Jadi sampeyan jual ke si Nilnil itu?" seorang petani menyenggol saya di saung tempat kami biasa nongkrong sambil ngopi. "Jadi. Mereka beli harga pasar, jadi untung kita." "Yang betul? Lantas mau dijual kemana? Ke ...
Putih, sayang. Kita sudah berteman sejak hari pertamamu dan genap setahun pertamaku hidup di dunia. Sekarang usiaku sudah tiga tahun, kata orang berarti usiamu setara dua puluh delapan tahun. Wow, kita berbeda dua puluh lima tahun! Apa yang sedang kamu pikirkan, ya? Mungkin cara untuk menguasai atau mempertahankan wilayah? Cara melawan musuh yang berdatangan dari kampung sebelah? Cara mendapatkan si manis tetangga seberang? Itu kalau kamu masih bersamaku. Sekarang, mungkin kamu sedang memikirkan akan cari makan di warung kaki lima yang mana? Cara mendapatkan lele goreng dari warung nasi uduk yang pemiliknya super galak? Cara melawan tatapan sinis dan geraman dari penduduk lokal emperan kota? Ah, aku rindu sekali padamu. Kamu adalah anak paling penurut yang pernah aku lihat, karena kamu selalu membersamai ibumu kapanpun dan dimanapun. Suaramu yang imut. Gerakanmu yang lincah. Ada salam dari kakek. Meskipun kakek yang memindahkan kamu ke kota, beliau sangat berterima kasih...
Comments