Posts

Hujan Sudah Berhenti

Klotak, klotak, frekuensinya semakin berkurang. Aku menggeret gorden ke sampling, mempersilahkan cahaya matahari yang beberapa jam lagi tenggelam di ufuk, tepat bila terpandang dari halaman depanku yang tak luas. Aku membuka pintu jati, sehingga menyeruaklah segerombolan petrichor yang membuat nyaman setiap insan yang gelisah akan hujan besar yang nyaris menggugurkan kuntum-kuntum bunga. Aroma bumi yang magis. Berkecipak bunyi sandal ketika aku melangkah menuju kotak pos yang berada di liar pagar. Sebelum gerimis, dering sepeda pak pos terdengar, sepertinya ada jawaban atas suratku dua bulan lalu. Apakah kali ini dia mengirim beberapa foto ladang tulip miliknya? Sejenak aku mengagumi halaman depan 'sekunder'ku yang terletak di seberang jalan: hamparan sawah yang selalu indah di masa tanam, masa pemupukan, masa orang-orangan sawah, hingga masa panennya yang serempak. Terlalu menghampar, terlalu indah. Dekat saung kecil di tengah sawah Itu, aku melihat tiga orang anak kecil la...

Selamat

Wafer selamat Wafer stik selamat Selamat pagi Selamat siang Selamat sore Selamat malam Selamat hari raya Selamat makan Selamat tidur Selamat datang Selamat tinggal Semuanya selamat. Hubunganku denganmu saja yang tidak selamat.

Gadis Kecil itu Sangat Cantik

Lihat itu. Amboi, gadis kecil itu sangat cantik. Rambutnya cokelat tua, bergelung-gelung hingga pinggangnya. Bibirnya merah muda, tipis menyungging senyum tanpa beban. Sedikit gigi putihnya terlihat di antara senyumnya. Lesung di pipinya sederhana. Pipinya tembam dan merona. Hidungnya kecil, memanggil-manggil yang melihat untuk datang dan menyentuhnya. Tapi, semua itu hanya aksesoris. Matanya, matanya adalah dia. Putih matanya sangat jernih, air mata yang melapisinya merefleksikan cahaya berkilauan. Bulu matanya lentik panjang, membuat iri tiap gadis. Sorot mata cokelat kehijauan itu begitu tajam dan menyeluruh, menyapa seluruh komponen yang diterima retinanya. Memandang ke arah matanya seperti masuk ke dalam hutan yang baru terbangun disapa pilar-pilar sinar matahari pagi. Sejuk, burung-burung bercicit gembira, gemericik mata air di sela-sela akar pohon, batang-batang pohon terasa dingin dan menenangkan. Mudah sekali membayangkan dirinya berjalan di antara pepohonan diikuti oleh tup...

Markas

"Bang!" dia melambai-lambaikan tangannya ke udara. "Oi, Nak! Sini naik!" Bang Hasyim menghentikan laju kudanya. Roda besi mengkeret di jalan aspal. Edo memposisikan dirinya di sisi kanan delman, menghadap alun-alun yang siang itu cerah dan ramai. Tubuhnya bergoyang pelan saat delman mulai melaju, mengitari alun-alun yang nampak bundar dari ketinggian, lalu berbelok ke arah sebuah lapangan kosong. "Turun disini, bang?" Edo nampak enggan turun dari delman. "Yak. Kamu bilang mau lihat markas Abang, kan?" Bang Hasyim nyengir. Edo hanya manggut-manggut. Delman Bang Hasyim kembali dipacu untuk berjalan pelan ke arah sebuah dinding besar dengan gerbang tertutup seukuran dua delman. Kuda Bang Hasyim yang sudah terlatih lantas menyundul tuas di antara sepasang gerbang itu, membukanya. Yang terlihat di depan mata Edo begitu menakjubkan. Edo pikir kota ini mana punya lahan luas, karena rasanya seluruh inci kota ini sudah penuh bangunan dan ta...

Bus Kota

Langit begitu biru, cahaya begitu merebak walaupun tidak terik.  Matahari sedang menggelar rangkaian pembuka dari perpisahannya bersama langit, menyuguhkan sinar keemasan bersama angin yang memadamkan panas dari atap-atap bangunan. Pun aku, yang baru beres dari segala kekacauan ini, yang buru-buru mengejar bus kota. Aku duduk di jejeran bangku berhadapan, meratakan tas di pelukan, berusaha menggerinda emosi. Vroom. Bus menghampiri halte berikutnya, membuat beberapa orang berkejaran ke arahnya. Satu-satu memperlihatkan wajah-wajah; perlente, pengamen, mahasiswa, siswa, PNS, ibu muda, kakek bertongkat, dan seseorang berkemeja yang tidak membawa tas. Dia duduk di sampingku, lebih tepatnya, menduduki alam bawah sadarku. Sejenak tarikan dari orang itu begitu kuat, berputar-putar, membingungkan, membuatku terus mencari apakah jenis tarikan ini. Dia memutar balik segala memori yang mana aku telah berdamai dengan mereka, tapi alam bawah sadarku tidak. Bus serasa mengabur, panas, tak ...

Zasya: Side Story (5)

Bukan sekali dua kali, sudah berulang kali Zasya cuma tepis-tepis segala kerusuhan di kepalanya, yang mengganggu atau malah menyenangkannya. Zasya kembali harus berhadapan dengan lapar haus yang menghilang, lelah yang terpelintir hingga hilang, hawa panas seperti sejuk pegunungan, langkah jalan seperti berlari, bicara terburu-buru, menandakan warga alam bawah sadar sedang melakukan parade di alam sadar. Pusing pusing berhadiah. Zasya mendudukkan dirinya di halte. Ngos-ngosan pelan, kedua kakinya kedutan sana sini. Nyaris setengah jalan pulang ia tempuh dengan jalan kaki. Waktu telah berjalan setengah jam ketika menempuh perjalanan itu, tapi rasanya baru saja lima menit Zasya jalan cepat. Hari ini memang tidak ada yang spesial selain bekal martabak spesial dari Ibu, hari sekolah pun berjalan seperti biasanya. Keluar dari gerbang belakang sekolah seperti biasanya. Berpapasan dengan Pandu, maba yang tiba-tiba berjalan mampir ke sekolah entah untuk urusan apa, lalu saling melambaikan ta...

Was So Excited

Halo Hai Halo Hai Hai Hai Halo Halo Halo Halo Hai Hai Halo Hai Hai Hai Hai Halo Halo Hai Hai Hai Halo Halo Halo Hai Hai Halo Hai Hai Hai Halo Halo Halo Halo Halo Halo Hai Hai Halo Hai Halo Halo Halo