Posts

Ketiduran

Aku terkekeh sendiri. Sudah lewat berapa hari ini? Lima, enam, tujuh? Seribu? Tiap petang berjanji untuk nanti terjaga lebih lama lagi, bisa lah barang satu dua paragraf ditulis, tapi janji tinggal janji. Pusing sekali, capek sekali, bersandar di kursi kerja sambil memasang timer sepuluh menit tapi terbangun pagi buta jam-jam kemudian. Ketiduran tidak sama dengan tidur, jadilah berjam-jam terbuang tidak bermakna buat badan sendiri atau pekerjaan sendiri. Setiap saat aku dihadapkan dengan pilihan hal-hal yang menyenangkan atau menarik untuk dijalani, hingga pada akhirnya memutuskan untuk berkomitmen pada banyak hal sekaligus. Sayangnya, memang otak ini tidak bisa dibelah-belah, tiap komitmen minta cuma dirinya yang diperhatikan. Mau tidak mau  harus buat keputusan setiap beberapa waktu sekali untuk berpindah atensi. Hari ini tugas kuliah, besok thesis, besoknya menulis, besoknya lagi aku, kan diri sendiri juga butuh dapat atensi. Bukan malas, bukan writer's block (karena aku bukan ...

Maaf

Image
Aku minta maaf karena seringkali tidak terbuka padamu. Bukan karena tidak percaya padamu, tapi lebih karena aku tidak ingin kamu terluka. Setiap hari aku mempertanyakan apakah aku dan sikapku yang sekarang adalah aku yang sesungguhnya atau hanya sekedar peran yang sedang dimainkan agar orang-orang nyaman terhadapku. Setiap kali aku mencoba lebih terbuka, rasanya seperti melepaskan panah pada kawan sendiri. Bahkan setiap kali aku mencoba lebih terbuka, diri sendiri seringkali memberikan peringatan kalau ini bukan hal yang baik. Apakah sesungguhnya aku bukan orang yang benar-benar baik? Aku minta maaf karena seringkali tidak terbuka padamu meskipun kamu memintanya. Rasanya aku tidak ingin kamu jadi kecewa lalu aku tidak akan disayangi lagi. Egois sekali. Aku terus menerus berharap bila aku bersikap baik, lama-lama aku akan jadi orang baik yang sesungguhnya. Bila aku terus menerus mengedepankan orang lain, lama-lama aku akan jadi orang tidak egois yang memang benar begini adanya. Apakah y...

Berpisah

Image
Orang-orang yang berpisah bisa memilih jalannya saat menanggung luka.  Berlari menjauh dan menghapus segalanya memang hal bagus untuk memulai yang baru, tapi hal ini tidak akan pernah bisa terjadi seratus persen. Mengubur dalam-dalam dan pergi jauh dengan alasan agar lebih cepat melupakannya hanya akan menimbulkan kacau balau apabila suatu saat bertemu dengannya (atau hanya secuil saja tentangnya) lagi. Karena kita semua masih ada di bumi, tidak mungkin tidak bersilang jalan. Tidak ada salahnya untuk tetap membiarkannya ada dan berpapasan (secara tidak sengaja) dengannya sesekali tanpa harus kabur. Yang terpenting adalah setelah berpisah, kamu merawat dirimu sendiri. Tidak harus jadi diri yang baru, tapi diri yang lebih menerima dan berdamai dengan apa-apa yang menyakitimu, sehingga tidak goyah ketika harus bertemu lagi. Tidak sakit hati, tidak rindu lagi, tidak mengharapkan yang sebelumnya sudah hilang untuk kembali. Bagaimana caramu menanggung luka? Ditulis sebagai bentuk partisi...

Dandan

Image
Ramai. Hitung mundur digital yang terpasang di dinding menunjukkan 2 menit sebelum iqamat. Mukena beragam warna, sarung beragam motif. Baris-baris mulai terisi, dari depan maupun belakang. Dari barisan perempuan, sekat yang pendek selutut membuat jamaah yang terus memasuki tiap sela barisan kosong terlihat jelas. Si gadis masih merapikan mukenanya setelah selesai tahiyatul masjid. Meraih kaca untuk melihat kerapian wajahnya dan memastikan tak sehelai rambut mengintip. Teman di sebelahnya sedari tadi memandangi saja hingga ia tidak bisa memandangi saja. "Hey, ke masjid itu mau ibadah, bukan cari ikhwan yang lihat ke kamu. Dandan mulu, hati-hati, lho." Si gadis cekikikan. "Memangnya tidak boleh terlihat rapi dan cantik ketika mau menghadap dan beribadah kepada Allah?" Si teman merengut, menyapukan tangannya ke sekitar wajah, sama memastikan tak sehelai rambut mengintip. Di ekor matanya terlihat seorang ikhwan rapi jali tinggi gagah memasuki ruangan masjid. Ditulis seb...

Reuni

Image
   Sangat jarang aku menerima ajakan ini. Bukan sesuatu yang sangat mengerikan, tapi aku merasa sangat takut dan tertekan. Takut ini sepertinya memang cuma dibuat sendiri, toh aku tidak akan tahu apa yang terjadi di luar lingkup kecil pikiranku. Aku pikir orang-orang tidak ingat tentangku, cuma selewat saja sebagai salah seorang yang ada di antara siswa-siswi sekolah ini, tidak lebih. Kalau diingat-ingat, sepertinya aku berteman dengan siapa saja dan tidak pernah bertengkar, tetapi tidak pernah juga punya teman dekat. Memang menyenangkan bisa punya hubungan baik dengan semuanya, tapi rasanya semua hanya karena aku orang yang baik, bukan karena aku terikat secara emosional dengan teman-teman dulu. Seperti menyapa orang yang berpapasan di koridor, tidak ada yang lebih. Sangat jarang aku menerima ajakan ini. Aku memutuskan untuk melindas rasa takut jadi orang yang dilupakan, daripada aku memandang acara itu terjadi dari kejauhan sambil menduga-duga apakah aku benar-benar jadi ora...

Bunga yang Rusak

Image
Ini adalah sebuah taman bunga, tapi aku adalah bunga yang rusak di antaranya. Tidak secantik itu, tidak semenawan itu. Rasanya sulit bersanding dengan bunga-bunga yang indah, tapi tidak mampu beranjak karena sejatinya tanaman tidak bisa berpindah tempat. Tiap hari bermandi cahaya matahari dan berselimut malam gelap, tetapi tetap saja tidak ada yang berubah: aku tetaplah bunga yang rusak. Hingga suatu hari aku dipetik untuk jadi bagian dari karangan bunga, yang artinya adalah aku akan segera pergi dari taman ini dan bertualang. Senang, tapi bingung. Di antara semua bunga yang indah, mengapa aku yang dipetik? Apakah supaya di taman itu bunga-bunga jadi seragam indahnya? Aku melalui jalan yang panjang sampai ke sebuah vas berisi bunga beraneka. Vas itu diletakkan di depan sebuah cermin, dimana akhirnya aku bisa melihat diriku sendiri. Selama ini rasanya aku sangat kerdil, beberapa mahkotaku rontok, dan sepertinya warnaku tidak cerah. Namun, aku keliru. Memang aku kerdil, tapi aku cantik b...

Gulma Payung

Image
"Nah, sekarang tolong kamu bantu Ayah mencabuti gulma-gulma ini, ya." Codrin yang sangat tinggi menutupi sengatan cahaya matahari bila dilihat dari sudut pandang Vara. "Ayah, mengapa kita mencabuti mereka?" Vara merengut. "Mereka lucu, seperti payung-payung kecil. Mungkin saja serangga atau peri kebun akan menggunakannya kalau hujan turun." Codrin tertawa bijaksana. "Vara memang sangat perhatian. Ayah setuju, mungkin saja gulma-gulma ini dibutuhkan. Hmm, bagaimana cara menjelaskannya. Anggaplah seluruh tanaman di kebun ini adalah anak-anak seusiamu yang sedang bertumbuh tinggi dengan cepat. Apakah untuk tumbuh tinggi butuh makanan yang banyak?" "Hmm, iya?" Vara menyahut sambil menyapukan tangannya ke permukaan gulma payung yang membentang seperti tajuk di belantara tanaman sayur dan herba. "Apabila ada sangat banyak anak di sekolah kebun ini, bagaimana cara mereka semua makan?" Codrin melanjutkan. "Tentu saja mereka harus...