Ini adalah ketiga kalinya saya merasa tenang ketika grup obrolan whatsapp rusuh membahas turunnya harga daun bawang. Tidak main-main, nyaris setengah harga normal. Banyak petani kemudian bingung bagaimana cara menjual habis daun bawang tanpa nombokin harga modal dan tetap bisa hidup cukup sekeluarga. Tengkulak, bagi mereka, adalah satu-satunya harapan. Belum lagi kalau si tengkulak adalah saudara dekat petani, untung tak untung tetap dijual karena hubungan keluarga. Saya segera beralih ke daftar kontak. Menelepon. "Halo, Pak?" "Mas Daniel! Saya ada panen daun bawang cukup banyak, bisa tampung?" "Berapa kuintal, Pak?" "Delapan." "Siap, laksanakan. Kami kesana sore ini." *** "Jadi sampeyan jual ke si Nilnil itu?" seorang petani menyenggol saya di saung tempat kami biasa nongkrong sambil ngopi. "Jadi. Mereka beli harga pasar, jadi untung kita." "Yang betul? Lantas mau dijual kemana? Ke ...
Comments